
Jesse Wilfred Reno dikenal oleh dunia sebagai penemu dari esklator atau tangga berjalan. Sebenarnya Reno bukanlah orang pertama yang pernah mematenkan produk eskalator namun pernah ada nama Nathan Ames yang berasal dari Saugus. Sayangnya rancangan milik Ames tidak pernah direalisasikan. Hingga akhirnya diambil alih oleh Jesse W Reno. Pada tahun 1892 Jesse W Reno diketahui sebagai penemu eskalator karena telah mematenkan produknya dengan sebutan inclined elevator.
Setelah Jesse W Reno mematenkan produknya, pada tahun 1897 munculah nama Charles D Seebegers yang mengklaim dirinya sebagai penemu eskalator. Penemuan eskalator milik Jesse W Reno dan Charles memiliki perbedaan. Pada eskalator ciptaan Reno hanya menggunakan ban berjalan yang tidak ada ujungnya.
Sedangkan penemuan milik Charles dilengkapi dengan alat pijakan kaki tangga. Lalu pada tahun 1899, Charles bergabung dengan perusahaan Otis. Dengan gabungnya Charles di perusahaan tersebut maka muncullah eskalator pertama yang dipasang untuk umum di Paris Exhibition pada tahun 1900.
Eskalator yang kita kenal seperti sekarang adalah hasil karya charles d seeberger pada tahun 1897. Ia juga yang menggunakan nama “escalator”, yang di ambil dari kata latin “scala” yang artinya “langkah” dan elevator. seeberger dan otis kemudian merancang eskalator publik pertama yang digunakan di paris exhibition tahun 1900 dan memenangkan hadiah pertama. seeberger kemudian menjual hak patennya kepada otis pada tahun 1910.
Kini, di gedung-gedung bertingkat, termasuk pusat-pusat perbelanjaan, eskalator seakan sudah menjadi fasilitas yang wajib ada. Demikian pula dengan lift. Memang, ada kengerian menapakkan kaki ke atasnya, terutama pada mereka yang baru pertama kali (hendak) menggunakannya. Wajar saja, karena kaki harus menginjak anak tangga yang bergerak.
Cara kerja eskalator memang mirip ban berjalan. Sebuah motor listrik memutar gir di bagian atas eskalator yang kemudian menggerakkan sepasang rantai yang menghela anak-anak tangga. Biasanya sebuah eskalator menggunakan motor berkekuatan 100 tenaga kuda untuk memutar gir tadi. Motor dan sistem rantai itu “dikandangkan” di dalam truss, sebuah struktur baja yang membingkai eskalator.
Satu hal yang mengagumkan dari eskalator adalah bagaimana anak tangga itu bergerak. Setiap anak tangga memiliki dua set roda, yang berputar sepanjang dua rel yang berbeda. Roda atas (dekat anak tangga) disambungkan ke rantai yang berputar, yang ditarik oleh gir atas. Roda lainnya hanya berputar sepanjang lintasannya, mengikuti gerakan roda pertama. Rel tadi dipisah sedemikian rupa sheingga setiap anak tangga akan selalu dalam posisi datar. Masing-masing anak tangga memiliki serangkaian kaitan di dalamnya, sehingga tidak lepas dengan anak tangga di belakang atau di depannya selama proses pemutaran oleh gir.
Supaya keseimbangan orang yang naik eskalator terjaga, dibuatlah pegangan tangan (handrail) berupa sabuk karet yang kecepatannya diatur seirama dengan kecepatan anak tangga. Meski kecepatannya sedeang-sedang saja (27 – 55 m per menit), daya angkut eskalator tak bisa disepelekan. Pada kecepatan 44 m per menit, eskalator sanggup mengangkut 10.000 orang setiap jamnya!
Fleksibilitas eskalator membuatnya cocok untuk pusat perdagangan, tempat hiburan, kantor, atau penggunaan lainnya. Namun, Otis tetap mengutamakan keselamatan pengguna. Ada deflektor khusus yang mencegah benda tidak masuk ke handrail entry box. Penggunaan bahan potongan alumunium yang tak mudah lepas menjamin kekuatan anak tangga.
Faktor estetika juga amat diperhitungkan. Desainnya harus sesuai dengan interior bangunan agar terlihat makin elegan dan aman.